Hubungan Kebiasaan Sarapan dengan Indeks Massa Tubuh Pelajar SMK Negeri 44 Jakarta
Downloads
Meskipun sarapan menyediakan sumber energi dan zat-zat gizi yang penting bagi remaja, kebiasaan melewatkan sarapan mengalami peningkatan di kalangan remaja Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan dengan indeks massa tubuh pada remaja. Penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan desain cross sectional yang melibatkan 381 pelajar SMK Negeri 44 Jakarta. Peserta dikategorikan berdasarkan frekuensi sarapan: setiap hari, kadang-kadang (4-6 kali/minggu), dan jarang/tidak pernah (1-3 kali/minggu). Pengukuran berat badan dan tinggi badan dilakukan untuk menentukan indeks massa tubuh. Uji korelasi Pearson digunakan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan dengan indeks massa tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 17,1% siswa tergolong obesitas, dengan 57,2% siswa memiliki status gizi normal. Sebanyak 15% siswa yang jarang atau tidak pernah sarapan memiliki IMT > 25 kg/m² (obesitas), sementara 49,7% siswa yang tidak pernah melewatkan sarapan memiliki indeks massa tubuh normal. Analisis statistik menunjukkan bahwa kebiasaan melewatkan sarapan pada remaja memiliki hubungan yang tidak signifikan dengan indeks massa tubuh (p > 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat kecenderungan hubungan antara kebiasaan sarapan dan status gizi, faktor-faktor lain seperti aktivitas fisik, pola makan secara keseluruhan, dan metabolisme individu mungkin berperan lebih dominan dalam menentukan indeks massa tubuh pada populasi remaja.
Copyright (c) 2026 Nur Asiah, Sri Wuryanti, Tuty Herawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



