Kritik Epistemologis terhadap Psikologi Barat dalam Memahami Fase Paruh Baya: Perspektif Al-Kuhulah dalam Psikologi Islam sebagai Paradigma Alternatif
Downloads
Psikologi Barat telah mendominasi wacana akademik tentang perkembangan manusia selama lebih dari satu abad, termasuk dalam memahami fase paruh baya. Namun, dominasi ini tidak luput dari problem epistemologis yang mendasar karena dibangun di atas fondasi sekularisme yang secara sistematis mengabaikan dimensi spiritual manusia sebagai variabel penting dalam perkembangan. Penelitian ini bertujuan melakukan kritik epistemologis yang komprehensif terhadap teori-teori psikologi Barat dalam memahami fase paruh baya—khususnya konsep midlife crisis (Levinson, 1978; Jacques, 1965), teori generativity vs. stagnation (Erikson, 1963), dan konsep individuasi (Jung, 1933)—serta menawarkan kerangka al-kuhulah dalam psikologi Islam sebagai paradigma alternatif yang lebih komprehensif dan otentik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kritik epistemologis dan analisis komparatif-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) konsep midlife crisis merupakan konstruk kultural yang bias Barat-sekuler, bukan fenomena universal; (2) teori Erikson, Levinson, dan Jung mengandung reduksionisme antropologis karena mengabaikan dimensi transenden manusia; (3) asumsi bahwa manusia dapat menemukan makna tanpa Allah mengandung kontradiksi internal yang tidak terselesaikan; dan (4) konsep al-kuhulah dalam Islam menawarkan paradigma yang secara epistemologis lebih utuh karena mengintegrasikan dimensi jasmani, rohani, aqliyah, dan ijtima'iyah dalam satu kerangka tauhidik yang koheren. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan psikologi Islam sebagai disiplin ilmu yang mandiri serta mendorong dekolonisasi kurikulum psikologi di lembaga pendidikan Islam Indonesia.
Copyright (c) 2026 Eko Widjaja

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



