Analisis Kasus Kerusuhan Yahukimo dalam Perspektif Teori Konflik Georg Simmel dan Relevansinya dalam Konteks Sosiologi Kontemporer

Konflik Sosial Teori Konflik Georg Simmel Kerusuhan Yahukimo

Authors

March 16, 2026

Downloads

Latar Belakang: Kasus kerusuhan di Kabupaten Yahukimo, Papua, yang terjadi pada 3 Oktober 2021, merupakan salah satu bentuk konflik horizontal yang memperlihatkan kompleksitas relasi sosial dalam masyarakat multikultural Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana konflik tersebut mencerminkan proses interaksi sosial yang memperkuat solidaritas internal kelompok, pembentukan batas sosial antar kelompok etnis, serta peran faktor simbolik seperti kepemimpinan dan identitas kolektif dalam memicu mobilisasi sosial.  Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif-interpretatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan memahami makna sosial dan dinamika konflik yang terjadi dalam peristiwa kerusuhan Yahukimo, bukan sekadar mengukur variabel secara kuantitatif. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengkaji fenomena konflik secara lebih mendalam melalui interpretasi terhadap konteks sosial, budaya, dan politik yang melatarbelakanginya.  Hasil: Kerusuhan Yahukimo mencerminkan dinamika konflik sosial yang kompleks, melibatkan dimensi emosional, simbolik, dan struktural. Dalam perspektif Georg Simmel, konflik merupakan bagian inheren dari interaksi sosial yang dapat memperkuat solidaritas kelompok sekaligus menciptakan batas sosial yang tegas. Namun, untuk memahami konflik secara menyeluruh, teori Simmel perlu dikombinasikan dengan pendekatan struktural dari Marx, Dahrendorf, Weber, serta perspektif kultural dari Geertz dan Anderson. Konflik Yahukimo menunjukkan bahwa solidaritas etnis yang kuat, jika tidak diimbangi dengan mekanisme mediasi dan keadilan sosial, dapat berubah menjadi kekerasan destruktif.  Kesimpulan: Dengan demikian, penyelesaian konflik di Indonesia memerlukan pendekatan multidimensional: penguatan dialog lintas identitas, pemerataan pembangunan, serta peran negara yang adil dan humanis dalam menjaga integrasi sosial.